Pemilihan Presiden IFAD, Bambang Masuk Tiga Besar

0
29

[Foto Istimewa]

Media IndonesiaRaya – Pemilihan Presiden International Fund for Agricultural Development (IFAD) dimenangkan oleh Mantan Perdana Menteri Togo Gilbert Fossoun Houngbo,

Setelah dilakukan pemilihan sebanyak dua ronde dalam sidang tahunan IFAD yang berlangsung di Roma, Italia, 14-15 Februari 2017.
Houngbo berhasil meraih suara 54,432% mengalahkan tujuh (7) kandidat lainnya. Posisi kedua ditempati politikus Italia Paolo De Castro dengan jumlah suara 20,341% dan ketiga wakil Indonesia Bambang Brodjonegoro yang meraih suara 17,654%.

“Houngbo, Paolo De Castro, dan Bambang Brodjonegoro berhasil maju ke ronde kedua setelah meraih suara terbanyak pada ronde pertama. Di ronde pertama, Houngbo meraih 39,623% suara, Paolo De Castro 15,088%, dan Bambang 15,088%,” jelas Staf Khusus Menteri PPN/Kepala Bappenas
Danang Rizki Ginanjar dalam keterangan tertulis yang diterima, Rabu (14/2).

Dengan begitu, Houngbo akan menjadi Presiden IFAD masa jabatan 2017-2021 dan mulai bertugas pada 1 April 2017. Pemilihan Presiden IFAD, lanjut Danang, ditentukan oleh besar kecilnya kontribusi permodalan masing-masing negara kepada IFAD. Saat ini terdapat 18 negara anggota IFAD yang memiliki lebih dari 50% total hak suara memilih dari total 176 negara anggota.

Adapun 10 negara yang memiliki hak suara paling besar adalah Amerika Serikat 6,98%, Italia 4,22%, Jerman 4,09%, Jepang 4,09%, Belanda 3,83%, Arab Saudi 3,52%, Kanada 3,44%, Inggris 3,29%, Swedia 3,12%, dan Prancis 3%. Indonesia sendiri memiliki hak suara sebesar 0,73% dan berada di urutan ke-25.

Dari delapan calon yang bertarung memperebutkan kursi Presiden IFAD, yakni Indonesia, Turki, Italia, Swiss, Dominika, Maroko, Togo, dan Meksiko, pertarungan sengit justru terjadi antara Italia dan pendukung Togo, yakni Prancis.

Menurut Danang, Italia pada detik-detik terakhir justru menambah modalnya sehingga porsi suaranya bertambah guna memberikan dukungan kepada kandidatnya. Dari sebelumnya ranking 8 menjadi rangking 2 terbesar suaranya.

Prancis bahkan menjadi juru bicara memiliki kampanye bagi Togo. Prancis memiliki pengaruh sangat kuat di kalangan negara-negara Afrika termasuk di Eropa.

Beberapa negara Eropa dan Afrika yang memiliki hak suara besar adalah Norwegia 2,6%, Swiss 1,5%, Belgia 1,35%, Denmark 1,34%, Nigeria 1,15%, Austria 1,14%, Spanyol 0,95%, Finlandia 0,94%, Aljazair 0,79%, Uni Emirat Arab 0,63%, Libya 0,56%, Meksiko 0,55%, dan Qatar 0,52%.
Di luar itu, negara yang memiliki daya tawar suara sangat kecil, seperti Kuwait 1,74%, Venezuela 1,61%, China 1,46%, India 1,44%, Brasil 0,82%, Indonesia 0,73%, dan Irak 0,63%,

Pakar hukum internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana melihat pemilihan Presiden IFAD sangat tergantung pada hak suara negara pendukung para kandidat.

“Intinya semua tergantung negara lain yang mendukung. Baik di Afrika maupun negara barat. Bukan sosok siapanya, tapi lebih kepada dukungan,” jelas dia.

Indonesia memiliki kans besar untuk menjadi pemimpin lembaga dana internasional untuk pengembangan agrikultural (International Fund for Agricultural Development/IFAD).

Syaratnya, negara tidak membiarkan calon Presiden IFAD, Bambang Brodjonegoro yang saat ini menjabat Menteri Bappenas berjuang sendiri.
“Kita punya kans besar. Bicara soal figur, Pak Bambang banyak pengalaman. Pernah memegang beberapa jabatan penting di Indonesia,” kata Hikmahanto.

Menurutnya, dalam pencalonan ini yang berat adalah sangat diperlukannya negara-negara pendukung yang menjadi bagian atau konstituen Indonesia untuk satu suara mendukung pencalonan Bambang Brodjonegoro.

Dengan dukungan pemerintah Indonesia secara kompak maka akan lebih mudah untuk mendapatkan suara dari negara tetangga.

“Sebagai negara, Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Maka negara harus bisa membantu dan melobi banyak negara lainnya. Intinya pemerintah harus kompak mendukung,” tuturnya, (BRT/bs.c)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here