Merayakan Toleransi dalam Keberagaman dikemas dengan ‘Ngobrol Kebangsaan’

0
38
[Foto Tampak Suasana Ngobrol Kebangsaan Merayakan Toleransi dalam Keberagaman di Gedung Konvensi TMPN utama Kalibata, Jakarta, Minggu (23/07)]

 

Jakarta, MediaINDONESIA Raya – Merayakan toleransi dalam keberagaman dikemas dengan Ngobrol Kebangsaan, dalam hal ini menghadirkan beberapa tokoh narasumber yang berjiwa nasionalis yang mempresentasikan tentang hal ngobrol Kebangsaan ini, yang terselenggara kerjasama diprakarsai bersama Komunitas rahmatan Lil Alamin dan Solidaritas Boedoet

Perihal mengenai itu, Banyak tokoh perdamaian dan kebangsaan dunia yang mengajarkan kita untuk menghormati keberagaman. Salah satunya adalah pelopor gerakan kemerdekaan India, yang mengenalkan gerakan memperjuangkan kemerdekaan tanpa kekerasan bernama Mahatma Gandhi.

Staff ahli Menteri Sosial, Mas’ud Sa’id mengatakan, Gandhi merupakan manusia sederhana yang mengajarkan rakyat India untuk memiliki kesabaran dan toleransi pada sesama.

“Mahatma Gandhi sendiri mempunyai arti Great Soul. Ia senang berpuasa, sangat sederhana, sangat santun, sangat religius, mencintai orang kecil, orang miskin, seakan tak mempedulikan dirinya, bekerja dengan kekuatan moral, konsisten dan sabar,” kata Mas’ud dalam acara Ngobrol Kebangsaan di Gedung Konvensi TMPN Utama Kalibata, Jakarta, Minggu (23/7), Seperti yang dikutip dari kumparan

Menurut Mas’ud, dalam tema merayakan toleransi dalam keberagaman ini, ada tiga prinsip hidup yang diajarkan oleh Mahatma Gandhi. Pertama ialah Satyagraha, kedua adalah Ahimsa dan ketiga adalah Swadesi.

“Satyagraha, artinya tidak mengenal lelah dalam mencari dan menemukan kebenaran. Kedua, ahimsa mempunyai arti tidak menyerang, tidak melukai, dan tidak membunuh. Serta yang ketiga adalah swadesi yang berarti memakai sesuatu yang dihasilkan sendiri,” jelasnya.

Mas’ud juga memaparkan 4 bentuk keberagaman yang ternyata malah dapat menyatukan Indonesia. Pertama adalah keberagaman sub kultur, keberagaman kepercayaan dan agama.

“Salah satu ciri natural Indonesia ialah bahwa kita terlahir secara beragam, secara ideologis, yang kemudian bersatu dalam Pancasila dan pembukaan UUD 1945,” imbuhnya.

“Kedua, keberagaman etnis, geografis, dan identitas. Sudah tidak diragukan lagi bahwa Indonesia disebut sebagai the most diversed nation in the world, etnic geografis and local identity” katanya.

Poin ketiga ialah keberagaman sosio-ekonomik yang disebabkan kondisi alamiah dan kondisi struktural yang berbeda, yang dampaknya menyebabkan adanya ketimpangan ekonomi, kaya-miskin, timur-barat, pekerja-pemilik modal.

Serta yang keempat adalah the nature of gap and the real problem in the future. “Setiap senti jurang ekonomi dan ketidakadilan akan mengundang konflik dan mungkin perang dan kekacauan,” katanya.

Menurut Mas’ud, dalam tema merayakan toleransi dalam keberagaman ini, ada tiga prinsip hidup yang diajarkan oleh Mahatma Gandhi. Pertama ialah Satyagraha, kedua adalah Ahimsa dan ketiga adalah Swadesi.

“Satyagraha, artinya tidak mengenal lelah dalam mencari dan menemukan kebenaran. Kedua, ahimsa mempunyai arti tidak menyerang, tidak melukai, dan tidak membunuh. Serta yang ketiga adalah swadesi yang berarti memakai sesuatu yang dihasilkan sendiri,” jelasnya.

Mas’ud juga memaparkan 4 bentuk keberagaman yang ternyata malah dapat menyatukan Indonesia. Pertama adalah keberagaman sub kultur, keberagaman kepercayaan dan agama.

“Salah satu ciri natural Indonesia ialah bahwa kita terlahir secara beragam, secara ideologis, yang kemudian bersatu dalam Pancasila dan pembukaan UUD 1945,” imbuhnya.

“Kedua, keberagaman etnis, geografis, dan identitas. Sudah tidak diragukan lagi bahwa Indonesia disebut sebagai the most diversed nation in the world, etnic geografis and local identity” katanya.

Poin ketiga ialah keberagaman sosio-ekonomik yang disebabkan kondisi alamiah dan kondisi struktural yang berbeda, yang dampaknya menyebabkan adanya ketimpangan ekonomi, kaya-miskin, timur-barat, pekerja-pemilik modal.

Serta yang keempat adalah the nature of gap and the real problem in the future. “Setiap senti jurang ekonomi dan ketidakadilan akan mengundang konflik dan mungkin perang dan kekacauan,” katanya.

Ia juga mengatakan bahwa Indonesia tidak akan diserang oleh Amerika dan tidak akan kalah dengan Malaysia, namun Indonesia akan kalah oleh dirinya sendiri dikarenakan pemahaman agama yang salah.

“Yang paling berbahaya adalah faham keagamaan yang salah. Indonesia melepaskan kebebasan warganya untuk beragama, yang tidak boleh itu ialah mengganti dan mengancam Indonesia dengan agama tertentu. Oleh sebab itu kita perlu doktrin keberagamaan rahmatan lil alamin,” lanjut dia.

Dalam kegiatan tersebut hadir pula Sukmawati Soekarnoputri, ketua umum GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas serta beberapa tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama yang lainnya.(BRT/k.c)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here