DPP HIPPI Selenggarakan Simposium Nasional Tentang Peran Pemuda Di Era Globalisasi

0
44
Foto : Erwin
Jakarta, Media Indonesia Raya – “Peran Pemuda Dalam Menghadapi Globalisasi Dengan Semangat Nasionalisme” demikian bunyi tema dari Simposium Nasional yang diadakan oleh DPP HIPPI yang bertempat di Hotel Balairung, Matraman, Jakarta Pusat, Jumat (29/9).
Pada simposium ini dihadiri para Narasumber :
1. Dr. Jawardi (Kabid Kemahasiswaan Kemenpora RI)
2. Dedi Jaya (Waketum DPP KNPI)
3. Subhan Pattimahu (Ketua AMPG Maluku)
4. Imamum ZM (Pengamat UI, Aktivis Gerakan Kebangsaan)
5. Agus Harta (PB HMI)

Dengan moderator : M Fikri Rotinsulu.

Dalam sambutannya Fadly Alimin Hasyim, yang menjabat Ketua Umum DPP HIPPI mengatakan bahwa HIPPI menjadi wadah bagi para pemuda untuk mengembangkan dirinya terutama dalam bidang organisasi.

“Saya pribadi mengharapkan para pemuda untuk aktif di HIPPI, dan menjadikan HIPPI sebagai tempat atau ajang silaturahmi, tempat merintis para pemuda termasuk mengeksplore diri tentang program-program, dimana menjelang pilkada yang sudah dekat ini diharapkan para pemuda lebih aktif terutama untuk isu-isu yang sifatnya nasional,” katanya.
Sedangkan Dedi Jaya yang juga menjabat Wakil Ketua Umum KNPI memaparkan dalam situasi dan kondisi saat ini apakah para pemuda sudah siap menghadapi perubahan.
“Saat ini saya sangat miris melihat kondisi para organisasi pemuda, organisasi mahasiswa saat ini belum cukup baik dibandingkan kualitas gerakan kemahasiswaan di periode dulu,” ujarnya.
Ia juga melihat ada degradasi kualitas gerakan khususnya kelompok Cipayung terutama dalam menyikapi isu-isu seperti Reklamasi, Meikarta, dan lain-lain.
“Ada degradasi kepekaan dari kader-kader kemahasiswaan yang tergabung dalam kelompok Cipayung, ini disebabkan penghancuran gerakan mahasiswa itu sendiri,” imbuhnya.
Ia juga menambahkan setelah pasca reformasi semangat nasionalisme para pemuda sudah sangat jauh menurun.
“Kita butuh peran kerjasama semua pihak termasuk para pemuda agar di era milenial ini para pemuda tidak kebablasan larut tanpa ideologi. Para pemuda harus mampu menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupannya sehari-hari,” tegasnya.
Dr. Jawardi sebagai Kabid Kemahasiswaan Kemenpora RI menyebut bahwa pihaknya dari kemenpora juga punya program untuk meningkatkan peran para pemuda.
“Terbitnya Perpres No. 66 tahun 2017 merupakan bukti nyata dari Pemerintah terutama Kemenpora Tentang Koordinasi Strategis Lintas Sektor Penyelenggaraan Pelayanan Kepemudaan,” sebut Jawardi.
Dengan adanya Perpres ini sedikit banyak membantu para pemuda, organisasi kepmudaan. Untuk itu para pemuda untuk aktif di bidang politi, sosial, budaya dan ekonomi sesuai bakat dan kemampuannya tambah Jawardi.
Subhan Pattimahu sebagai Ketua AMPG Maluku meninjau tentang sikap Panglima TNI terutama ajakan nonton bareng Film G30S/PKI.
“Menurut saya kita bersikap positif saja, menurut saya TNI sangat paham tentang situasi dan kondisi negara saat ini. Nonton bareng ini untuk mengingatkan kembali para pemuda terutama meningkatkan rasa nasionalisme termasuk kewaspadaan terhadap bahaya laten Komunis-PKI. Jadi ambillah sisi positif dari ajakan Panglima TNI tersebut terutama untuk mempelajari sejarah masa lalu,” ujar Subhan.
Subhan juga mempertanyakan peran pemuda di era globalisasi saat ini.
“Saya menghimbau para pemuda untuk belajar lebih keras, meningkatkan kualitas diri sendiri dalam memghadapi era persaingan di era globalisasi sekarang ini. Belajarlah, bekerjalah, berusahalah dan berkompetisilah di era persaingan saat ini. Dimana para pemuda harus lebih kritis terhadap timbulnya masalah Liberalisme, jadi tidak cukup fokus kepada isu komunis saja,” sebut Subhan lagi.
Imamum Z. Muttaqien yang sehari-hari sebagai aktivis gerakan kebangsaan menyatakan bahwa jika dilihat dari UU No. 40 tahun 2009 tentang kepemudaan.
“Yang disebut pemuda menurut Pemerintah RI itu kelompok manusia yang berusia 16 tahun hingga 30 tahun, dalam hal batasan usia pemuda, World Health Organization (WHO) punya pandangan jauh berbeda yakni kelompok manusia yang berusia antara 18 tahun hingga 65 tahun,” jelasnya.
Ia menyebutkan filosofi tentang pemuda bahwa usia muda adalah usia untuk bersikap dan bertindak serta mengembangkan daya kreatifitas.
“Para pemuda cobalah untuk mengembangkan industri kreatif. Kembangkan daya saing kalian disana. Kembangkan industri kreatif yang diterima rakyat banyak,” pinta Imamum.
Ia juga berharap mulai saat ini para pemuda meningkatkan nasionalismenya lewat pengamalan nilai-nilai Pancasila tutupnya.(Erwin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here