Foto: Istimewa
Jakarta, Mediaindonesiaraya.com – Pertemuan sejumlah tokoh dan perwakilan organisasi Islam dari unsur Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah menjadi momentum penting untuk memperkuat persatuan umat. Pertemuan ini juga menjadi ruang dialogis dalam mencari jalan keluar atas berbagai persoalan yang berkembang di ruang publik.
Dalam kesempatan tersebut, salah satu tokoh menegaskan pentingnya kebersamaan umat Islam tanpa sekat latar belakang organisasi. Perbedaan antara NU dan Muhammadiyah dinilai tidak boleh menjadi alasan untuk saling berhadapan.
Semangat persatuan ini dinilai krusial untuk terus dijaga, terlebih Indonesia kini telah memasuki usia 81 tahun kemerdekaan. Persatuan umat merupakan fondasi penting dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa, termasuk di sektor sosial dan ekonomi.
“Intinya saya ingin satu, Islam bersatu. Saya tidak peduli dari mana kita berasal. Kalau dengan bangsa lain yang berbeda keyakinan saja kita bisa bersahabat, apalagi sesama umat Islam,” ujarnya.
Pertemuan tersebut juga secara khusus membahas persoalan terkait sebuah unggahan di media sosial yang sempat memicu pelaporan hukum. Para peserta menekankan pentingnya melihat persoalan tersebut secara utuh dan tidak terburu-buru dalam mengambil kesimpulan.
Pihak yang memberikan klarifikasi menjelaskan bahwa unggahan yang dipersoalkan sebenarnya merupakan bentuk perhatian dan pengingat terhadap kondisi di Aceh. Ia menegaskan sama sekali tidak berniat menyinggung masyarakat Aceh, mempertentangkan kelompok, ataupun membenturkan NU dengan Muhammadiyah. Ia juga menyampaikan permohonan maaf terbuka atas kesalahpahaman yang terjadi.
“Saya mohon maaf jika apa yang saya sampaikan menyinggung perasaan teman-teman atau masyarakat. Tidak ada maksud membenturkan kelompok masyarakat, apalagi NU dan Muhammadiyah,” tuturnya.
Di sisi lain, perwakilan pihak terkait menjelaskan bahwa unggahan tersebut muncul di saat Aceh tengah menghadapi situasi bencana. Akibatnya, pernyataan tersebut berpotensi menimbulkan persepsi yang berbeda di tengah masyarakat. Meski demikian, pertemuan ini berhasil diarahkan untuk mencari titik temu demi mencegah konflik antarkelompok.
Sementara itu, perwakilan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor menjelaskan bahwa persoalan ini masih dalam proses koordinasi internal. Hasil dari pertemuan ini akan segera dikomunikasikan kepada pihak-pihak terkait untuk menentukan langkah strategis berikutnya.
Para peserta sepakat bahwa penyelesaian masalah harus mengedepankan komunikasi, tabayun (klarifikasi), serta prioritas menjaga persaudaraan sesama muslim (ukhuwah Islamiyah) dan persatuan bangsa.
“Pertemuan hari ini bukan akhir. Kita masih mencari benang merah dan jalan terbaik agar persoalan ini tidak berkembang menjadi perpecahan,” ujar salah satu peserta pertemuan.
Pertemuan ditutup dengan harapan agar komunikasi antara unsur NU, Muhammadiyah, dan seluruh elemen umat Islam terus terjaga. Dengan begitu, setiap persoalan di masa depan dapat diselesaikan secara bijaksana, damai, dan bermartabat.(Red)
