Foto: Istimewa
Jakarta, Mediaindonesiaraya.com – Eksistensi desainer muda berbakat Indonesia kembali mencuri perhatian industri fesyen tanah air. Sebanyak lima desainer muda pilihan dari program Fashion Entrepreneur di Istituto di Moda Burgo Indonesia sukses menampilkan koleksi inovatif terbarunya dalam ajang bergengsi Fashion Nation 2026 yang berlangsung di Senayan City, Minggu (20/9). Pagelaran memukau ini terlaksana berkat kolaborasi apik dengan Indonesian Fashion Chamber (IFC).
Koleksi yang dipamerkan kali ini membawa napas segar yang sangat relevan dengan tren masa kini. Inspirasi busana diambil langsung dari gaya berpakaian kasual jalanan yang biasa dikenakan oleh generasi muda sehari-hari, namun dielevasi menggunakan standar pengerjaan couture. Keunikan ini terlihat jelas melalui eksperimen cross-functional, seperti memadukan struktur korset yang anggun dengan pakaian sehari-hari (everyday wear).
“Hari ini kami menampilkan karya dari lima desainer Burgonians. Mereka merupakan desainer pilihan dari program Fashion Entrepreneur. Koleksi yang ditampilkan sangat merepresentasikan karakter Gen Z, dengan perpaduan yang cross-functional seperti memadukan korset dengan pakaian sehari-hari,” ungkap Jenny Yohana Kansil, selaku CEO Burgo Indonesia di Senayan City, Jakarta, Minggu (20/9).

Jenny menjelaskan lebih lanjut mengenai tema utama yang diangkat oleh para desainer perempuan tersebut. “Tema utama yang diusung adalah street style. Inspirasinya diambil dari gaya jalanan yang biasa dikenakan oleh Gen Z sehari-hari, namun konsep tersebut kami bawa ke tingkat atelier untuk dipadukan dengan teknik studio mode tinggi. Oleh karena itu, muncul detail korset serta beberapa koleksi dengan teknik potongan yang kompleks. Desainer kami memiliki keunggulan tersendiri, khususnya di bidang craftsmanship.”
Koleksi kolektif yang matang ini lahir dari tangan dingin lima desainer mahasiswa yang saling berkolaborasi di studio Burgo dengan membawa keunikan karakter masing-masing:
– Angela Bernice Christian (Bereníkē): Mengeksplorasi ruang antara kerapuhan dan kekuatan emosional melalui desain yang merayakan kepercayaan diri yang tenang dan otentik. Bagi Angela, fesyen adalah media untuk kembali menjadi diri sendiri.
– Jasmine Nabila: Memulai langkah dari skala rumahan dengan menjual scrunchie buatan tangan saat SMP, Jasmine sukses mengasah ketajaman teknik pattern making dan konstruksi busana kreatifnya selama tiga tahun terakhir di Burgo.
– Nadine Emmanuel: Dikenal dengan kemampuannya merancang siluet kontemporer melalui eksplorasi detail yang matang, memadukan konsep visual yang kuat dengan fungsi praktis pakaian sehari-hari.
– Safira Nafiis (Sa Vire): Desainer berbasis konsep yang piawai menerjemahkan emosi abstrak menjadi siluet visual yang penuh makna, menyeimbangkan struktur dan fluiditas dalam kesederhanaan yang elegan.
– Samantha Kessler (Chimera): Menghadirkan desain sebagai respons terhadap lanskap digital yang kian artifisial, menjadikan karyanya sebagai jangkar untuk merayakan keindahan seni keahlian tangan manusia (handmade).
Di balik keindahan visual luar yang ditampilkan, koleksi para desainer muda ini membawa filosofi mendalam tentang kenyamanan. Desain yang dihadirkan membuktikan keunggulan teknik pembuatan pakaian yang diajarkan di Burgo, di mana struktur bagian dalam pakaian dinilai sama pentingnya dengan estetika luar.
“Di Burgo, kami mengajarkan siswa bukan hanya sekadar membuat baju, tetapi kami membimbing mereka secara detail mulai dari tahap awal hingga penyelesaian (finishing). Sesuatu yang sering dilupakan orang adalah anggapan bahwa memakai baju itu yang penting terlihat cantik, padahal pakaian tersebut juga harus nyaman dipakai. Karena itu, kami harus memastikan semua siswa benar-benar berkualifikasi (qualified). Bisa dilihat dari koleksinya, tidak hanya cantik dari luar, tetapi bagian dalamnya jauh lebih nyaman. Kami memikirkan struktur luar dan dalam pakaian, karena apa yang tidak kelihatan justru lebih penting daripada yang kelihatan,” jelas Howard Laurent selaku desainer sekaligus instruktur di Burgo Indonesia.
Luar biasanya, karya-karya matang yang ditampilkan di atas runway tersebut lahir dari tangan kreatif para siswa yang bahkan belum menyelesaikan masa studinya. Howard menambahkan, “Luar biasanya, mereka ini masih berstatus sebagai siswa dan baru memasuki awal tahun ketiga, jadi belum resmi lulus.”
Pertunjukan mode ini merupakan bagian krusial dari pemenuhan akhir program akademik untuk melatih kesiapan mereka di industri nyata.
“Pertunjukan ini merupakan bagian dari program Fashion Entrepreneur di akhir masa studi. Target kami adalah mencetak mereka menjadi seorang desainer sekaligus pengusaha mode. Siswa belajar secara menyeluruh mulai dari membuat koleksi, menyusun rencana bisnis (business plan), mengarahkan sesi pemotretan, hingga akhirnya menampilkan karya mereka di panggung runway.”
Pagelaran di panggung Fashion Nation 2026 ini sekaligus menjadi bukti nyata dari perjuangan para pendiri dalam mendirikan dan membesarkan Burgo di Indonesia. Jenny Yohana Kansil, mengakui bahwa dalam proses mendidik, pihak institusi menghadapi tantangan tersendiri untuk menonjolkan karakter otentik setiap anak didik tanpa menghilangkan identitas sekolah. Kolaborasi dengan IFC juga menjadi momentum penting untuk memperluas jejaring para desainer muda ini ke industri mode nasional.
“Tantangan terberatnya adalah setiap siswa memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Kami tidak bisa memaksa siswa untuk masuk ke dalam satu kotak yang sama. Kami harus mengarahkan mereka agar mampu menonjolkan keunikan masing-masing agar terlihat ikonik, namun tetap mempertahankan standar estetika dari Burgo. Karakter Burgo sendiri selalu identik dengan kesan yang elegan, namun seperti yang bisa dilihat hari ini, kami juga mampu menampilkan tema yang lebih edgy,” papar Jenny.
Ketika ditanya mengenai hal mendasar yang membedakan Istituto di Moda Burgo Indonesia dengan institusi mode lainnya, Jenny menegaskan keunggulan akar budaya mode Italia serta sistem pengajarannya yang sangat personal.
“Pertama, institusi kami berasal langsung dari Milan, Italia, sehingga kami membawa Italian know-how asli ke Indonesia. Yang paling membedakan kami dengan sekolah lain adalah kami menerapkan Metode Burgo, yaitu sistem pembelajaran kurikulum personal secara tatap muka (one-on-one personalized curriculum). Kelas kami tidak bersifat massal (centralized), melainkan sangat personal. Mentor mendampingi siswa satu per satu, dan kurikulum disesuaikan berdasarkan minat serta bakat unik mereka,” pungkas Jenny menutup sesi wawancara.(Red)
